Selasa, 31 Maret 2015

Etika dan Profesionalisme Dalam Pekerjaan



Dunia kerja jelas berbeda dengan apa yang sedang saya jalani saat ini yaitu sebagai mahasiswi, di kampus saya beretika selayaknya sebagai mahasiswi. Etika dan profesinalisme dalam dunia kerja jelas dibutuhkan, apa itu etika? sebuah sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral,begitulah pengertian etika yang saya kutip dari wikipedia. Singkatnya etika adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Bagaimana dengan Profesionalisme? Profesionalisme adalah sifat-sifat (kemampuan, kemahiran, cara pelaksanaan sesuatu dan lain-lain) sebagaimana yang sewajarnya ter­dapat pada atau dilakukan oleh seorang profesional, profesional adalah  seseorang yang menawarkan jasa atau layanan sesuai dengan protokol dan peraturan dalam bidang yang dijalaninya dan menerima gaji sebagai upah atas jasanya. 
Ada pun manfaat yang di dapat dari etika di dalam dunia kerja antara lain dapat mengetahui mengenai penilaian baik dan juga buruk bagi semua manusia dalam ruang dan waktu tertentu, dan ada pun manfaat yang di dapat dari profesionalisme dalam dunia kerja antara lain, dapat menghargai pendapat orang lain yang berbeda, selain itu dapat menganalisis suatu masalah yang di hadapi di dunia kerja, selain itu juga seseorang yang profesionalisme juga mempunyai sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi serta terbuka menyimak dan menghargai pendapat orang lain, namun cermat dalam memilih yang terbaik bagi diri dan perkembangan pribadinya.
Jadi, etika dan profesionalisme dalam suatu pekerjaan sangatlah penting. Pekerjaan apapun akan terasa lebih baik jika yang mengerjakan memiliki etika dan profesinalisme dalam bekerja.



sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Profesional
http://ms.wikipedia.org/wiki/Profesionalisme



Senin, 09 Februari 2015

Internet


Sekarang ini internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, dalam sehari tidak ada jaringan internet saja beberapa orang bisa menjadi galau. Kegiatan yang dilakukan berhubungan internet itu sangat banyak,salah satu yang paling dikenal yaitu online di beberapa sosial media. Termasuk saya yang hampir setiap hari online sosial media baik untuk update atau sekedar melihat-lihat alias kepo hahaha. Tapi kurang bermanfat juga jika yang dikepoin bukan ilmu melainkan stalker orang-orang yang........ gitu deh haha oke skip. Selain aktif di sosial media, saya juga suka menuangkan cerita di blog heem mungkin bukan share ilmu pengetahuan sih tapi lebih ke cerita-cerita yang pernah dialami. Fasilitas di blog yang saya gunakan ini sih menurut saya sudah lengkap, dimana semuanya bisa di insert mulai dari picture, link, dan video.
Bicara soal video, selain suka ngeblog saya juga suka liat-liat video di youtube. Mulai dari konser band, film pendek, funny video, maupun kreatifitas lainnya. Nah disinilah letak keinginan saya yang sangat amat saya inginkan ada di youtube yaitu fitur download hahaha selama ini saya selalu download lewat idm atau keepvid. Dulu sih sempat tahu link yang langsung bisa download tapi yaaa pengen aja bisa download videonya langsung dari youtube. Youtube pun punya channel atau account, enak juga nih sepertinya kalau youtube bisa kaya path ada fitur repath hahaha kenapa? karena menurut saya, channel yang di subscribe orang lain ketika mengupload video dari channel lain tapi tetap menampilkan nama channel yang mengupload itu , orang yang telah mensubscribe akan melihat video itu juga sehingga itu sebuah keuntungan besar bagi channel yang telah di repath *istilahnya* atau repost lah haha , dimana penambahan viewer akan bertambah. right???

Oke itulah sekian kegiatan saya yang berhubungan dengan internet serta harapannya hehe :)

Kamis, 27 November 2014

Aplikasi Terapan



Pekerjaan dari lulusan jurusan sistem informasi pasti lebih identik menjadi sistem analis. Karena memang jurusan ini lebih mengacu kepada analisis sistem, saya juga merasakan demikian setelah hampir 3,5 tahun menjadi mahasiswi jurusan sistem informasi. Kalau bicara soal pekerjaan yang diinginkan setelah lulus nanti sebenarnya sedikit menyimpang dari jurusan ini, saya sangat menyukai multimedia, akan tetapi dengan jurusan kuliah yang saya ambil ini sepertinya menarik juga bekerja menjadi sistem analis atau di bidang IT. Untuk menyeimbangkan keinginan, keahlian dan ketertarikan saya dengan multimedia dan sistem analis ataupun pekerjaan lainnya dibidang IT, saya ingin menerapkan suatu aplikasi yang ada kaitannya dengan multimedia. Seperti misal saya bekerja di media, contoh di detik.com. Website detik.com selalu up to date dengan informasi maupun berita-berita setiap harinya dalam bentuk tulisan yang disertai dengan gambar, yang saya ingin terapkan adalah jika di halaman website dari berita tersebut terdapat audio yang dapat membaca tulisan tersebut. Mungkin itu suatu ketertarikan tersendiri agar para pengunjung website pun bertambah. Walaupun diperlukannya tambahan database untuk memasukkan sound dari setiap berita yang di update bahkan butuh rekaman dari setiap katanya. 

Menurut saya, dengan adanya multimedia akan jauh lebih menarik dan salah satu dari multimedia yang paling diminati adalah televisi. Bagi televisi, kualitas program diukur dari angka rating yang pada akhirnya memengaruhi perolehan iklan. Rating pun diperoleh dari suatu alat yang terpasang pada masing-masing televisi (ini dari hasil googling taunya hehe) sedangkan saya berpendapat rating televisi tidak berbanding lurus dengan kualitas acara tv. Saya juga ingin menerapkan suatu aplikasi yang dapat membantu sistem perhitungan rating acara televisi yang diukur menggunakan alat selama ini. Aplikasi tersebut bisa di akses oleh khalayak umum. Aplikasi tersebut lebih kepada pendapat dari para penikmat acara televisi tersebut, aplikasi tersebut dapat menayangkan hasil rating yang telah dihitung oleh programmer televisi kemudian para penikmat acara bisa memberikan pernyataan dari pendapatnya apakah acara dari urutan rating tersebut memiliki kualitas yang bagus. Karena menurut saya rating diukur hanya melalui alat masih kurang meyakinkan, survey juga perlu dilakukan. Yang saya pernah ketahui, rating juga diukur melalui trend yang diikuti oleh masyarakat. Dengan adanya Aplikasi ini para programmer televisi bisa lebih memiliki hasil nyata pendapat kualitas acara tv dari para penikmatnya.

Yaaa itulah sebagian dari aplikasi terapan yang saya inginkan jika saya sudah lulus kuliah dan bekerja nanti. there is a will there is a way :)

Minggu, 23 November 2014

Hak Untuk Para Pencipta



Sekarang ini banyak sekali para pembajak atau yang biasa disebut dengan copycat. Mereka adalah yang menyalin atau berupaya untuk menjadi sama. Seperti contoh yang sering terjadi di Indonesia adalah membajak lagu, film dan lain sebagainya. Membajak itu sungguh perbuatan yang sangat tidak menyenangkan bagi para pencipta suatu karya yang dibajak dan untuk itu lah hak cipta itu diperlukan. Hak cipta adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu, jadi hak cipta juga dapat memungkinkan si pemegang hak untuk membatasi penggandaan tidak sah atas suatu ciptannya. Hak cipta termasuk kedalam Hak Atas Kekayaan IntelektuaL (HAKI), kekayaan itu sendiri seperti karya-karya yang sudah dihasilkan dari suatu pemikiran dan diberilah hak kepada orang-orang atas hasil buah pikiran mereka.
Selain hak cipta (copyright) terdapat 3 jenis HAKI lainnya, berikut ini adalah jenis-jenis HAKI beserta penjelasannya:

1. Hak cipta (copyright)
tulisan "copyright" sangat sering ditemukan, baik itu diberbagai tulisan maupun karya lainnya. Pengertian jelas dari hak cipta adalah hak dari pembuat sebuah ciptaan terhadap ciptaannya dan salinannya. Pencipta memiliki hak penuh terhadap ciptaannya tersebut serta salinan dari ciptaannya tersebut. Hak-hak tersebut misalnya adalah hak-hak untuk membuat salinan dari ciptaannya tersebut, hak untuk membuat produk derivatif, dan hak-hak untuk menyerahkan hak-hak tersebut ke pihak lain. Hak cipta berlaku seketika setelah ciptaan tersebut dibuat serta hak cipta tidak perlu didaftarkan terlebih dahulu.

2. Paten (Patent)
Jika hak cipta adalah yang melindungi sebuah karya, makan paten adalah melindungi sebuah ide, bukan ekspresi dari ide tersebut. Pada hak cipta, seseorang lain berhak membuat karya lain yang fungsinya sama asalkan tidak dibuat berdasarkan karya orang lain yang memiliki hak cipta. Sedangkan pada paten, seseorang tidak berhak untuk membuat sebuah karya yang cara bekerjanya sama dengan sebuah ide yang dipatenkan.

3. Merk Dagang (Trademark)
Merk dagang digunakan oleh pebisnis untuk mengidentifikasikan sebuah produk atau layanan. Merk dagang meliputi nama produk atau layanan, beserta logo, simbol, gambar yang menyertai produk atau layanan tersebut. Berbeda dengan HAKI lainnya, merk dagang dapat digunakan oleh pihak lain selain pemilik merk dagang tersebut, selama merk dagang tersebut digunakan untuk mereferensikan layanan atau produk yang bersangkutan. Merk dagang diberlakukan setelah pertama kali penggunaan merk dagang tersebut atau setelah registrasi. Merk dagang berlaku pada negara tempat pertama kali merk dagang tersebut digunakan atau didaftarkan. Tetapi ada beberapa perjanjian yang memfasilitasi penggunaan merk dagang di negara lain. Sama seperti HAKI lainnya, merk dagang dapat diserahkan kepada pihak lain, sebagian atau seluruhnya.

4. Rahasia Dagang (Trade Secret)

Berbeda dari jenis HAKI lainnya, rahasia dagang tidak dipublikasikan ke publik. Sesuai namanya, rahasia dagang bersifat rahasia. Rahasia dagang dilindungi selama informasi tersebut tidak ‘dibocorkan’ oleh pemilik rahasia dagang.

So, jenis-jenis HAKI inilah yang dapat melindungi hasil karya dari para pencipta. STOP PEMBAJAKAN! STOP COPYCAT! hasil karya juga dilindungi oleh undang-undang, hargailah para pencipta yang telah menyumbangkan pikirannya untuk menghasilkan suatu karya. sekian :)


Karena saya sendiri pun tidak ingin dibilang copycat, jadi saya akan menyertakan sumber dari berbagai link yang saya lihat :)

SUMBER:

http://id.wikipedia.org/wiki/Hak_cipta
http://id.wikipedia.org/wiki/Kekayaan_intelektual
http://farmacyschool.wordpress.com/2012/11/12/4-macam-jenis-haki/

Minggu, 13 April 2014

CERPEN

            PERJUANGAN TUGAS AKHIR


          “Kuliah itu susah, tapi masih susah perjuangan orangtua nguliahin anak-anaknya”, Kalimat itu lagi popular di salah satu social media yaitu path. Sudah beberapa kali aku melihat posting teman-temanku di path seperti itu, hmmm memang benar sih, aku yang merasakannya sendiri karena aku adalah salah satu mahasiswi semester tua universitas negeri di Bandung . Kalau ngomongin soal semester tua pasti yang ada dipikiran ya skripsi, skripsi dan skripsi. Banyak mahasiswa-mahasiswa yang terlambat lulus karena mentok di skripsi, lebih seringnya sih karena kebanyakan revisi. Aku saja masih berkutat dengan judul yang mau aku ambil untuk dijadikan bahan skripsi. Lagi dan lagi aku ngedumel sebelum tidur “kenapa sih mau nambahin gelar sarjana saja susahnya minta ampun? Kenapa nggak kaya SMA saja yang hanya menyelesaikan ujian lalu bisa lulus?” tapi seketika aku inget lagi kalimat yang sering muncul di path itu, teringat orangtua yang sudah mengeluarkan biaya yang nggak sedikit untuk anaknya supaya terus menuntut ilmu, mendapatkan gelar hingga bisa sukses nantinya. 
          Bulan sudah berganti menjadi matahari, itu pertanda aku harus bergegas kekampus karena ada bimbingan skripsi untuk pertama kalinya di pagi hari. Sesampainya di taman kampus aku melihat beberapa temanku yang sedang asik dengan laptopnya, kupikir mereka sedang asik kepoin mantan, tapi ternyata mereka sedang serius menyusun bab 1 untuk skripsi mereka. “hai ta, bimbingan yaa?” sapa stella si cewek paling pintar di kelas, “iya nih la, lo udah bimbingan la? Gimana? Judul lo diterima?” aku bertanya dengan penuh penasaran. “udah ta baru aja tadi ketemu dosen pembimbing, Alhamdulillah keterima ta bahkan gue udah ngajuin bab 1 dan nggak ada revisi hehe” waaaaaahhhh gue iri banget! Cewek sepinter dia ya pastilah lancar ngerjainnya, “Alhamdulillah lancar ya la! Okedeh gue ketemu dosen pembibing dulu ya la, bye” “amin ta, goodluck ya!”, andai saja kalau Stella menyemangati langsung nular kepintaran dia, tapi sayang itu cuma khayalan saja.
          “Assalamualaikum bu , saya Kalista dari semester 8 jurusan sistem informasi yang menjadi anak didik ibu untuk skripsi” “oke silahkan duduk” , aku janjian sama dosen pembimbing untuk bertemu diruangannya, baru duduk saja aku sudah deg-degan. “Jadi kamu mau ngajuin judul apa untuk skripsi kamu kalista?” “ini bu”, aku menyodorkan selembar kertas A4 dengan goresan beberapa judul yang aku ajukan. “oke judul kamu cukup menarik, apa kamu mampu menyelesaikannya?” “Insya Allah bu, jadi judul saya diterima?” “iya kalista, saya tunggu bab 1 kamu minggu depan ya”. Alhamdulillah… sungguh ini rasanya seperti habis menang undian sepuluh juta, senang banget. Oke aku harus semangat ngerjain bab 1 supaya lulus tepat waktu, “kalista!!!” suara teriakkan itu berasal dari kantin yang tidak jauh dari pintu masuk ruangan dosen, dan ternyata itu Gita teman dekatku dikelas, aku bergegas menghampirinya “hai git ! Gue baru aja ketemu dosen pembimbing dan judul gue diterima, sumpah lagi on fire nih gue jadinya, gimana judul skripsi lo ? diterima?” tanpa basa-basi aku langsung cerita sama gita dan bertanya, “ta….” Gita Cuma balas dengan menyebut 2 huruf belakang nama aku dan dia langsung meluk aku sambil terisak-isak dan ternyata Gita nangis, “lo kenapa git? Sini cerita sama gue” aku langsung ngajak Gita duduk di kursi kantin dekat tukang baso, “ta, gue iri sama lo” ”loh kenapa iri? Iri gue pacaran sama lee min ho si aktor korea yang super ganteng itu?” aku mengajak gita bercanda supaya tidak sedih lagi, “kalistaaaaa gue serius” “hehe iya iya kenapa gita? Coba ceritain pelan-pelan” aku mengusap pundak Gita untuk menenangkan, “gue iri judul lo diterima dosen pembimbing, lah gue? Ketemu juga belum ta” “ya ketemu lah git sama dosen lo” “itu dia masalahnya ta, dosen pembimbing gue ternyata lagi ke Eropa sebulan, gimana nasib gue ta? Apa gue bakal lulus bareng junior?” “serius git? Ini kan masih pertemuan pertama dan lo harus nunggu bulan depan baru bisa ketemu dosen dan ngajuin judul?” “iya ta, makanya gue sedih nih campur kesel juga” “aaah gita sabar yaaa” akupun memeluk gita dan langsung bersyukur dosen aku bisa ditemuin disaat pertemuan pertama ngajuin judul dan judulku juga di terima. 
          Satu minggu sudah berlalu, akupun sudah meyiapkan beberapa lembar A4 yang penuh ketikkan isi bab 1 untuk aku kasih ke dosen pembimbing. Tapi sesampainya dikampus aku mendapatkan pesan dari dosen pembimbingku bahwa dia ada acara jadi tidak bisa ketemu. Aku yang berangkat dari rumah dengan penuh semangat seketika luntur begitu saja ketika tahu dosen pembimbing aku tidak bisa ditemui. Bulan pertama pun sudah berlalu, lagi dan lagi dosenku tidak ada kabar, aku sms tidak dibalas, aku telfon pun dimatikan olehnya. “Apa ini yang dimaksud masa-masa sulit mahasiswi semester akhir?”, tanyaku dalam hati. Aku duduk termenung di taman kampus, “woy bengong aja” “eh lo git ngangetin aja” ternyata yang menepuk punggungku dari belakang itu Gita, “kenapa lo ta? Duduk sendirian bengong ditaman?” “dosen pembimbing gue gabisa ditemuin terus git, pusing gue” “kejar ta!” “hah? Kejar? Maksud lo git?” “iya ta,lo inget kan bulan lalu yang gue nangis gara-gara dosen gue itu?, jadi setelah kejadian itu gue usaha gimana pun caranya judul gue di terima sama dosen dan gue mulai bab 1, ya akhirnya gue cari email dia dan gue email ngajuin judul, ya walaupun sempat dua kali revisi judul akhirnya di terima juga judul gue,via email” “wah serius git?” “iya ta, bahkan barusan gue ketemu dosen pembimbing gue dan ngajuin bab 1, ya walaupun ada revisi sedikit tapi bolehlah lanjut bab 2” oke memang seharusnya aku nggak patah semangat gini, seharusnya aku terus usaha bagaimanapun caranya agar skripsiku ini tepat waktu. 
          Keesokan harinya smsku dibalas oleh dosen pembimbing “kalista temui saya di ruangan saya pukul 14.00, bawa bab 1 kamu”, dapat sms itu aku langsung bergegas kekampus padahal waktu masih menunjukan pukul 12.00 siang. Sesampainya dikampus aku langsung pergi ke masjid dan solat zuhur sebelum menemui dosen pembimbing, dan berdoa semoga dilancarkan dalam mengerjakan skripsi ini. Jam ditanganku sudah menunjukan pukul 14.00, aku langsung bergegas ke ruangan dosen. “ini bu bab 1 saya” aku mengajukan bab 1 diatas meja dosen pembimbingku, tanpa banyak bicara dosenku langsung memeriksa bab 1 yang telah aku buat dan goresan-goresan tinta hitampun mulai terlihat, “kalista bab 1 kamu harus di revisi, ini yang sudah saya tandai ada beberpa kalimat yang salah dan kurang tepat” ketika aku melihat, bab 1 sudah penuh coretan hitam dimana-mana, itu adalah pertanda revisi dimulai. “Sebulan gue nungguin tuh dosen, pas ketemu gue masih harus revisi dan hampir 60% semuanya diubah?” lagi dan lagi aku ngedumel sebelum tidur. Sebenarnya ngedumel itu nggak ada untungnya, lebih baik ngerjain revisi bab 1, segera ketemu dosen semoga bisa lanjut bab selanjutnya. 
          Nama-nama bulan pun telah berganti seiring jalannya waktu, tidak terasa lima bulan sudah berlalu, dan hari ini aku wisuda. Ya, sebentar lagi namaku akan bertambah gelar menjadi Kalista,Skom.. Lima bulan yang penuh perjuangan, Alhamdulillah aku lulus tepat waktu. Aku mendapatkan giliran wisuda kloter pertama. Dari lima bulan ini aku belajar, bahwa sesuatu yang ingin dicapai itu tidak akan tercapai kalau tidak ada usaha, kesuksesan tidak akan datang dengan sendirinya, melainkan kita harus mengejar kesuksesan itu dan disertai pula dengan doa.


-THE END-

Selasa, 18 Maret 2014

Ragam Bahasa Indonesia

Bahasa adalah kapasitas khusus yang ada pada manusia untuk memperoleh dan menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, dan sebuah bahasa adalah contoh spesifik dari sistem tersebut. Bahasa Indonesia telah dinyatakan sebagai bahasa nasional sejak tahun 1928, jauh sebelum Indonesia merdeka. Saat itu bahasa Indonesia dinyatakan sebagai bahasa persatuan dan menggunakan bahasa Indonesia sebagai perekat bangsa. Bahasa Indonesia diresmikan pada kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1945. Bahasa Indonesia adalah bahasa dinamis yang hingga sekarang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan asing. Bahasa mengalami perubahan seiring dengan perubahan masyarakat. Perubahan itu berupa ragam-ragam bahasa yang dipakai sesuai keperluannya, yang dimaksud dengan ragam bahasa adalah varian dari sebuah bahasa menurut pemakaian, perbedaan penutur, media, situasi, dan bidang.  Bahasa Indonesia memang memiliki banyak ragam. Hal Ini karena bahasa Indonesia sangat luas pemakaiannya dan bermacam-macam ragam penuturnya. Dalam setiap individu tidak mungkin menggunakan gaya bahasa yang sama, pasti tiap-tiap individu memiliki gaya tersendiri dalam berbahasa, media yang digunakan juga juga bisa ragam tulis maupun lisan ,maupun ragam bahasa yang digunakan pada bidang yang berbeda mempunyai ciri yang berbeda pula, misalnya bahasa jurnalistik berbeda dengan ragam bahasa sastra. Pengertian Ragam Bahasa menurut para ahli :
Menurut Bachman (1990), “ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara.”

Menurut Fishman ed (1968), "suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak tertutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi anutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Dalam pada itu perlu yang perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik pembicaraan".

Menurut Dendy Sugono (1999), “bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku”.

Ragam Bahasa terdapat dalam beberapa jenis, yaitu :

1. Ragam Lisan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , Ragam Lisan adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terikat oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. Ciri-ciri ragam bahasa lisan diantaranya memerlukan kehadiran orang lain, unsur gramatikal tidak dinyatakan secara lengkap, terikat ruang dan waktu dan dipengaruhi oleh tinggi rendahnya suara. Ragam Lisan meliputi ragam bahasa cakapan, ragam bahasa pidato, ragam bahasa kuliah dan ragam bahasa panggung.
Ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan. Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai.

2. Ragam Tulis
Ragam Tulis adalah ragam bahasa yang digunakan melalui media tulis, tidak terkait ruang dan waktu sehingga diperlukan kelengkapan struktur sampai pada sasaran secara visual atau bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Ciri-ciri ragam bahasa tulis adalah sebagai berikut:
a. Tidak memerlukan kehadiran orang lain.
b. Unsur gramatikal dinyatakan secara lengkap.
c. Tidak terikat ruang dan waktu
d. Dipengaruhi oleh tanda baca atau ejaan.
Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.

3. Ragam Baku 
Ragam Baku adalah ragam bahasa yang oleh penuturnya dipandang sebagai ragam yang baik. Ragam ini biasa dipakai dalam kalangan terdidik, karya ilmiah, suasana resmi, atau surat resmi.

4. Ragam Cakapan (ragam akrab)
Ragam Cakapan  adalah ragam bahasa yang dipakai apabila pembicara menganggap kawan bicara sebagai sesama, lebih muda, lebih rendah statusnya atau apabila topik pembicara bersifat tidak resmi.

5. Ragam Hormat
Ragam Hormat adalah ragam bahasa yang dipakai apabila lawan bicara orang yang dihormati, misalnya orang tua dan atasan.

6. Ragam Sosial
Ragam sosial adalah ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya didasarkan atas kesepakantan bersama dalam lingkungan social yang lebih kecil dalam masyarakat. Ragam sosial membedakan penggunaan bahasa berdasarkan hubungan orang misalnya berbahasa dengan keluarga, teman akrab dan atau sebaya, serta tingkat status sosial orang yang menjadi lawan bicara. Tiap individu akan melakukan pemilihan kata yang tepat sebagai contoh pengucapan kata 'kamu' akan diucapkan jika lawan bicaranya adalah teman , berbeda jika berbicara dengan orang yang memiliki kedudukan sosial lebih tinggi seperti Kepala sekolah, Presiden dan lain sebagainya.

7. Ragam fungsional
Ragam fungsioanal, sering juga disebut ragam professional merupakan ragam bahasa yang dikaitkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya. Sebagai contoh yaitu adanya ragam keagamaan, ragam kedokteran, ragam teknologi dll. Kesemuaan ragam ini memiliki fungsi pada dunia itu sendiri. Contoh:

A. Ragam Kedokteran
Ada empat hal yang membuat seorang dewasa dapat kehilangan daya penglihatannya. Yang pertama kelainan di kornea, lalu kelainan lensa, kelainan di retina, dan terakhir di pusat saraf pengolah data yang datang dari mata. Kelainan kornea dapat diatasi dengan transplatasi kornea yang dilakukan di Indonesia sudah banyak dilakukan. Demikian pula kelainan lensa. Katarak misalnya, sudah bukan hal sulit lagi mengindikasi adanya gangguan fungsi di bagian otak.

B. Ragam Agama
Dalam Al-Quran dijelaskan pengelompokan ajaran Islam secara garis besar adalah akidah, syariah, dan akhlak. Ajaran Islam merupakan landasan yang mendasari seluruh aktivitas kehidupan Islami. Sistem keyakinan dalam ajaran Islam dibangun dalam enam landasan yang disebut rukun iman. Syariah adalah peraturan yang diberikan Allah SWT untuk mengatur berbagai aspek kehidupan manusia. Akhlak dalam Islam merupakan manifestasi dari akidah dan syariah yang bersifat sakral, absolut, imperatif, akurat, universal, dan memiliki makna ukhrowi.

8. Ragam Jurnalistik
Kalau membahas mengenai jurnalistik , pasti yang terlintas adalah wartawan. Wartawan sangat terkait dengan jurnalistik itu sendiri karena tugas dari wartawan itu berkaitan dengan pemberitaan atau penyebarluasan suatu informasi dalam bentuk berita. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Jurnalistik menyangkut kewartawanan dan persuratkabaran. Bahasa yang digunakan wartawan dalam dalam menulis karya jurnalistik dalam media massa disebut sebagai bahasa pers atau bahasa jurnalistik. Pada dasarnya bahasa jurnalistik digunakan oleh wartawan (jurnalis) dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa (Anwar, 1991). Dengan demikian, bahasa Indonesia pada karya-karya jurnalislah yang bisa disebut sebagai bahasa jurnalistik atau bahasa pers.
Ragam bahasa jurnalistik itupun memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang dapat membedakan ragam bahasa jurnalistik dengan ragam bahasa yang lain. Dan bahasa jurnalistik yang baik itu haruslah sesuai dengan norma tata bahasa yang antara lain terdiri atas susunan-susunan kalimat yang benar dan pemilihan kata yang tepat. Bahkan laras bahasa jurnalistik itupun termasuk dalam laras bahasa baku.
karena keterbatasannya bahasa jurnalistik memiliki sifat yang khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik. Sifat-sifat khas ini menurut Badudu (Suroso, 2001), yaitu :

a. Singkat, yaitu harus menghindari penjelasan yang bertele-tele.
b. Padat, yaitu bahasa yang singkat itu sudah mampu menyampaiakn informasi yang lengkap. Menerapkan prinsip 5W+1H, membuang kata-kata mubazir serta menerapkan ekonomi kata.
c. Sederhana, yaitu bahsa jurnalistik sedapat mungkin memilih kalimat tunggal dan sederhana, bukan kalimat majemuk yang panjang, rumit, dan kompleks. Kalimat yang efektif, prakits, sederhana pemakaian kalimatnya, tidak berlebihan pengungkapannya (bombastis).
d. Lugas, yaitu mampu menyampaikan pengertian atau makna informasi secara langsung dengan menghindari bahasa yang berbunga-bunga.
e. Menarik, yaitu menggunakan pilihan kata-kata yang hidup, tumbuh, dan berkembang. Menghindari kata-kata yang sudah mati.


Sumber :

Senin, 25 November 2013

Perkembangan Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia adalah bahasa sehari-hari yang digunakan oleh warga negara Indonesia. Baik untuk berbicara, menulis dan melakukan kegiatan lainnya. Walaupun bahasa Indonesia tidak asing lagi untuk warga negara Indonesia, akan tetapi pelajaran bahasa Indonesia masih sangat diperlukan. Dimulai dari TK, SD, SMP,SMA bahkan di perkuliahan pun ada mata kuliah bahasa Indonesia yang bertujuan untuk mengenal perkembangan bahasa Indonesia sampai saat ini , mengetahui ragam-ragam bahasa Indonesia dan lain sebagainya. 
Berbicara tentang perkembangan bahasa Indonesia , Tidak semua warga negara Indonesia mengetahui asal muasal bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yaitu,  sebuah Bahasa Austronesia yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern, paling tidak dalam bentuk informalnya. Bentuk bahasa sehari-hari ini sering dinamai dengan istilah Melayu Pasar. Jenis ini sangat lentur sebab sangat mudah dimengerti dan ekspresif, dengan toleransi kesalahan sangat besar dan mudah menyerap istilah-istilah lain dari berbagai bahasa yang digunakan para penggunanya.
Bentuk yang lebih resmi, disebut Melayu Tinggi, pada masa lalu digunakan kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Malaya, dan Jawa. Bentuk bahasa ini lebih sulit karena penggunaannya sangat halus, penuh sindiran, dan tidak seekspresif Bahasa Melayu Pasar.
Pemerintah kolonial Belanda yang menganggap kelenturan Melayu Pasar mengancam keberadaan bahasa dan budaya Belanda berusaha meredamnya dengan mempromosikan Bahasa Melayu Tinggi, di antaranya dengan penerbitan karya sastra dalam Bahasa Melayu Tinggi oleh Balai Pustaka. Tetapi Bahasa Melayu Pasar sudah telanjur diambil oleh banyak pedagang yang melewati Indonesia.
Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan), namun pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa ibu. Biasanya masih digunakan bahasa daerah (yang jumlahnya bisa sampai sebanyak 360).  Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi.
Berikut adalah rangkaian peristiwa-peristiwa penting dalam perkembangan bahasa Indonesia :

1. Pada tahun 1901 disusunlah ejaan resmi Bahasa Melayu oleh Ch. A. van Ophuijsen dan ia dimuat dalam Kitab Logat Melayu.

2. Pada tahun 1908 Pemerintah mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 ia diubah menjadi Balai Pustaka. Balai itu menerbitkan buku-buku novel seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.

3. Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan saat-saat yang paling menentukan dalam perkembangan bahasa Indonesia karena pada tanggal itulah para pemuda pilihan mamancangkan tonggak yang kukuh untuk perjalanan bahasa Indonesia.

4. Pada tahun 1933 secara resmi berdirilah sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana dan kawan-kawan.
Pada tarikh 25-28 Juni 1938 dilangsungkanlah Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.

5. Pada tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar RI 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.

6. Pada tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) sebagai pengganti Ejaan van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.

7. Kongres Bahasa Indonesia II di Medan pada tarikh 28 Oktober s.d. 2 November 1954 juga salah satu perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.

Balai Pustaka

Balai Pustaka adalah sebuah perusahaan penerbitan dan percetakan milik negara. Balai Pustaka didirikan dengan nama Commissie voor de Volkslectuur yang mempunyai arti dalam bahasa Indonesia "Komisi untuk Bacaan Rakyat" oleh pemerintah Hindia-Belanda pada tanggal 14 September 1908. Commissie voor de Volkslectuur kemudian berubah menjadi "Balai Poestaka" pada tanggal 22 September 1917. Karya sastra di Indonesia sejak tahun 1920 – 1950, yang dipelopori oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini. Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak dan bahasa Madura. Tujuan lain yang dilakukan oleh Komisi Bacaan Rakyat (KBR) yaitu menerjemahkan atau menyadur hasil sastra Eropa hal ini juga bertujuan agar rakyat Indonesia buta terhadap informasi yang berkembang di negaranya sendiri.

Berikut ini adalah beberapa pengarang dan karya sastra Angkatan Balai Pustaka :

Merari Siregar :
Azab dan Sengsara: kissah kehidoepan seorang gadis (1921)
Binasa kerna gadis Priangan! (1931)
Tjinta dan Hawa Nafsu

Marah Roesli:
Siti Nurbaya
La Hami
Anak dan Kemenakan

Nur Sutan Iskandar:
Apa Dayaku Karena Aku Seorang Perempuan
Hulubalang Raja (1961)
Karena Mentua (1978)
Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)

Abdul Muis:
Pertemuan Djodoh (1964)
Salah Asuhan
Surapati (1950)

Tulis Sutan Sati:
Sengsara Membawa Nikmat (1928)
Tak Disangka
Tak Membalas Guna
Memutuskan Pertalian (1978)

Aman Datuk Madjoindo:
Menebus Dosa (1964)
Si Tjebol Rindoekan Boelan (1934)
Sampaikan Salamku Kepadanya

Suman Hs. :
Kasih Ta’ Terlarai (1961)
Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
Pertjobaan Setia (1940)

Adinegoro :
Darah Muda
Asmara Jaya

Sutan Takdir Alisjahbana:
Tak Putus Dirundung Malang
Dian jang Tak Kundjung Padam (1948)
Anak Perawan Di Sarang Penjamun (1963)

Hamka :
Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938)
Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1957)
Tuan Direktur (1950)
Didalam Lembah Kehidoepan (1940)

Anak Agung Pandji Tisna :
Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1975)
Sukreni Gadis Bali (1965)
I Swasta Setahun di Bedahulu (1966)

Said Daeng Muntu:
Pembalasan
Karena Kerendahan Boedi (1941)

Marius Ramis Dayoh:
Pahlawan Minahasa (1957)
Putra Budiman: Tjeritera Minahasa (1951)

Ejaan Soewandi

Ejaan Soewandi berasal dari nama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu. Ejaan Soewandi atau disebut juga Ejaan Republik (edjaan republik) adalah ketentuan ejaan dalam Bahasa Indonesia yang berlaku sejak 17 Maret 1947. Ejaan ini mengganti ejaan sebelumnya, yaitu Ejaan Van Ophuijsen yang mulai berlaku sejak tahun 1901.
Beberapa contoh ejaan yang membedakan Ejaan Soewandi dengan Ejaan Van Ophuijsen ialah:

- Huruf 'oe' menjadi 'u', seperti pada goeroe → guru.

- Bunyi hamzah dan bunyi sentak yang sebelumnya dinyatakan dengan (') ditulis dengan 'k', seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.

- Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti ubur2, ber-main2, ke-barat2-an.

- awalan 'di-' dan kata depan 'di' kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata depan 'di' yang menunjukkan kata keterangan tempat pada contoh dirumah, disawah, tidak dibedakan dengan imbuhan 'di-' yang menunjukkan kata kerja pada dibeli, dimakan.Ejaan Soewandi ini berlaku sampai 

tahun 1972 lalu digantikan oleh Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada masa menteri Mashuri Saleh. Pada masa jabatannya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pada 23 Mei 1972 Mashuri mengesahkan penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan dalam bahasa Indonesia yang menggantikan Ejaan Soewandi. Sebagai menteri, Mashuri menandai pergantian ejaan itu dengan mencopot nama jalan yang melintas di depan kantor departemennya saat itu, dari Djl. Tjilatjap menjadi Jl. Cilacap.

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Delapan tahun setelah Suwandi meninggal dunia, Ejaan Soewandi kemudian diganti dengan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) hingga sekarang. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Pada 23 Mei 1972, sebuah pernyataan bersama ditandatangani oleh Menteri Pelajaran Malaysia Tun Hussein Onn dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Mashuri. Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan Yang Disempurnakan. Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin bagi bahasa Melayu ("Rumi" dalam istilah bahasa Melayu Malaysia) dan bahasa Indonesia. Di Malaysia, ejaan baru bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB).
Selanjutnya pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan buku "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan" dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 27 Agustus 1975 Nomor 0196/U/1975 memberlakukan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan" dan "Pedoman Umum Pembentukan Istilah".
Pada tahun 1987, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987 tentang Penyempurnaan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan". Keputusan menteri ini menyempurnakan EYD edisi 1975. Pada tahun 2009, Menteri Pendidikan Nasional mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Dengan dikeluarkannya peraturan menteri ini, maka EYD edisi 1987 diganti dan dinyatakan tidak berlaku lagi.

perubahan: 
Indonesia
(pra-1972)
Malaysia
(pra-1972)
Sejak 1972
tjchc
djjj
chkhkh
njnyny
sjshsy
jyy
oe*uu


Sumber :